Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘CERPEN’ Category

FirsT Day in My School

First day in my school
First day in my school

Senin, 17 Juli 1994 hari kedua mengunjungi rumah pendidikanku. Rumah yang akan menjadi tempat semediku selama 6 tahun. Rumah yang akan menyinari otakku dari gelapnya ilmu pengetahuan. Rumah yang menjadi alas an ketika aku minta uang saku kepada ibuku. Inilah rumah yang memperkenalkan aku kepada angka dan bahasa. Rumah yang mengajariku berbuat kebaikan dan rumah yang membuatku mempunyai bapak dan ibu tiri baru. Bukan bapak dan ibu tiri karena hubungan pernikahan melainkan bapak dan ibu tiri yang mengasuh dan menafkahi serta member makan berbagai ilmu pengetahuan kepadaku. Disini juga aku mendapatkan teman baru dan yang terpenting buatku adalah aku bisa mempunyai sepatu, baju, tas, dan buku-buku baru. Aku bisa sedikit sombong kepada kakakku karena aku menjadi seperti seorang raja dan kakakku pembantunya.
Teng…teng..teng!!!
Bel masuk berbunyi. Bel yang terbuat dari bahan tembaga yang dibuat seperti lonceng. Bel itu digantungkan didepan ruang kantor para guru. Bel yang menjadi keramat bagi kami bukan karena ada kuntilanak yang menungguinya ataupun suster ngesod yang meminta uang saku kami karena seharian belum makan melainkan bel itu selalu mengadili kami ketika kami kurang disiplin.
Jam 8 tepat selesai upacara kami berbaris didepan kelas. Wau gila, ternyata seniorpun ikut berbaris. Mukanya seram-seram dan menakutkan, lebih takut daripada malam jum’at kliwon karena setiap malam jum’at kliwon aku selalu tidur lebih dulu. Yach tidur lebih dulu karena bidadari-bidadari syetan akan mengajakku kencan di bawah pohon kamboja. Aku langsung mengambil posisi barisan paling belakang karena para senior baris didepan. Gila aja didepan ntar aku dijadikan santapan pagi mereka.
Setelah masuk kelas ku disambut oleh pahlawan-pahlawan bangsa. Mereka adalah pangeran diponegoro, pangeran imam bonjol, kapitten pattimura, sultan hassanuddin dan jendral sudirman. Mereka menatapku, menatap dengan tatapan yang tajam. Tatapan yang memberikan makna baru dan semangat perjuangan yang menggelegar. Presiden Soeharto pun tersenyum kepadaku dan melihatkku tanpa mengedipkan mata sekalipun. Wajah mereka terpampang didinding yang berwarna kuning kecoklatan. Atap ruangan kami terbuat dari anyaman bamboo yang sudah jebol dan lantai sekolah kami terbuat dari campuran semen dan pasir yang biasanya disebut “plester”. Didepan kelas kami ada sebuah papan tulis hitam. Papan tulis yang banyak berlubang dan sudah rusak. Papan tulis yang tak pernah bosen menghirup debu-debu kapur berbulan-bulan bahkan tidak memperdulikan penyakitnya. Yach penyakit, penyakit yang membuat orang mengalami kematian antara lain kanker paru-paru, kanker kulit dan kanker payudara (Gal ach masa papan punya jenis kelamin). Penyakit itu disebabkan karena terlalu banyak menghirup debu dan gak pake lotion anti ultraviolet. Wajahnya yang penuh dengan jerawat tak membuat dia malu untuk tetap mengabdikan dirinya demi kemajuan dunia pendidikan.
Di ruang kelas kami terdapat 58 murid baru. Terdiri dari 30 perempuan dan 28 laki-laki. Karakter mereka bermacam-macam. Ada yang memamerkan giginya yang tinggal 2 karena pada digigit kuman-kuman berbisa, ada yang memamerkan ketinggiannya karena umurnya yang sudah tua karena ternyata mereka bukan senior kami, melainkan teman kita juga yang baru masuk sekolah. Yach itu sudah terbiasa karena memang desa kami amnesia terhadap dunia pendidikan. Ada juga yang memamerkan gaya rambutnya yang botak karena sebelum rambutnya dipangkas banyak kutunya, ada juga yang memamerkan jambulnya yang diminyaki dengan minyakgoreng dan tidak sedikit diantara mereka termasuk aku yang memamerkan baju, celana, sepatu, tas dan buku serta alat tulis baru.
Setelah beberapa menit terdengar suara tangisan dari pojok kelas kami. Dua cewe yang nangis bebarengan seperti sedang paduan suara dengan alunan nada yang kacau balau. Mereka berdua menjadi artis hari itu juga karena menjadi pusat perhatian dari semua murid di ruang kelas kami. Mereka adalah artis yang tidak laku tanda tangannya dan gak bakal ke syuting dengan acting dramanya. Suaranyapun semakin menggelegar seakan-akan mau berpitado bahkan semakin keras seakan-akan mau konser dipanggung dengan ribuan penonton tapi sayangnya penontonnya langsung pada kabur. Disaat rekaman pun kaset dan CD’nya langsung rusak karena dalam studio direkam tanpa ada sound sistemnya.
“He…hee..he…he…hiks…hiks”, tangisan kedua anak itu sambil memperlihatkan ingusnya yang membajiri mulutnya.
“Kenapa nangis nak”, kata seorang ibu guru.
“Kami di cii….ciii..hiks..”, jawabnya, sambil memamerkan giginya yang pada ompong.
“Di ci apa..?Ibu guru gak ngerti”,
“Kami dicium bu..?”, kata mereka dengan muka semakin lebam.
“What…?”, eh salah emang cinta lura.
“Apa..? ma siapa..?”, kata ibu guru.
“Sama itu..”, katanya sambil menunjukkan telunjuk ke arahnya.
Setelah itu ibu guru memanggilnya untuk maju kedepan bukan untuk menerima hadiah ataupun disuruh menulis karena tulisannya seperti cakar ayam melainkan karena ulahnya yang berhasil memperoleh rekor dari MURI yaitu mencium dua cewe cantik dikelas kami. Sebenarnya aku juga iri dia bisa mencium dua cewe itu tapi aku gak mau maju kedepan coz aku sedang menahan kentutku yang dari tadi aku belum kukeluarkan. Mungkin 2,5% kentutku tak kubagikanbukannya aku pelit tapi karena tidak ada yang menerimanya. Ternyata dia namanya Karyoto. Nama itu bukan berasal dari kari nya soto yang menjadi makanan favoritku melainkan dari..? Ga tau sich dari mana..? Yang pasti dari orang tuanya bukan dari orang tua nenenk moyangnya yang diteorikan oleh Darwin tapi ibu dan bapak kandungnya.
“Kenapa tadi mencium ida dan ita to?”, kata ibu guru.
Ya nama cewe tadi ida dan ita. Sepasang anak kembar yang terlahir kedunia tanpa izin dulu ke ketua RW untuk bikin KTP biar mukanya gak ketukar.
Karyoto hanya diam tak bisa menjawab. Dia hanya memperlihatkan wajahnya yang polos dan pura-pura bego. Bahkan bukan pura-pura lagi melainkan buyutnya bego cpz ternyata dia idiot. Dia tidak bisa menipu kami dengan wajahnya ditutupi tutup panic (ya gak lach ntar gosong), maksudnya dengan wajahnya yang sok cakep dan putih akibat terlalu tebal bedaknya. Di mungkin menyesal dan akan mengulanginya lagi dilain hari. Dia hanya diam dan menunduk dan lama-kelamaan dia menyanyikan sebuah lagu slow bukan yang Afgan ataupun Glenn Fredly nyanyikan tapi lagu yang sering dinyanyikan anak-anak ketika minta jajan gak dikasih. Dia langsung keluar kelasd karena ketakutan dan langsung memeluk ibunya yang mengantarkannya. Dia sekolah sisini karena memang di kampong kami tidak ada SLB dan hanya sekolah kami yang mau menerimanya.
Setelah kondisi reda, kami maju kedepan untuk memeprkenalkan nama yang diberikan oleh orang tua kami yang merekapun tak tau artinya apa. Nama yang mungkin akan kita pakai walaupun izrail dating untuk mengajak tidur bersama di alam abarzah nanti, namun nama itu akan tetap dikenang. Nama yang menjadi initial kami, nama yang membuatkku selalu menengok ketika dipanggil dan nama yang menurut sebagian ulama adalah sebuah doa.
“Namaku adalah Paijah, niasanya dipanggil ijah”, kata siswa yang duduk didepan.
“namaku adalah Ragil Prasojo, biasanya dipanggil Ragil”, kata teman sebangkunya.
Begitulah seterusnya, mereka memperkenalkan nama mereka masing-masing. Aku pun semakin gugup karena giliranku aku maju kedepan lama banget. Namaku adalah Muhammad aBdul LatieF. Nama yang diberikan orang tuaku karena menurutnya bagus artinya. Padahal orang tuaku benar-benar gak tau apalah arti dari namaku.
Nama itu dari Asmaul Husna yaitu alltiFu. Setelah teman sebanguku dengan tinggi 167 dan berumur 17 tahun maju, sekarang giliranku untuk maju kedepan. Dengan perasaan gugup dan ketakutan aku melangkah maju kedepan.
“Namaku Muhammad Abdul LAtief, biasa dipanggil latief”, kataku.
Sambil menggoyang-goyangkan badan yang membuat semua murid tertawa. Aku semakin grogi. Aku buru-buru ketempat duduk dengan wajah kemerahan dan menahan malu.
Setelah kami berkenalan, giliran guru kami yang berkenalan. Guru yang menjadi wali kelas kami. Guru yang berbadan gemuk dan muka yang serius. Dia jarang tertawa sehingga kami sering merasa taku ketika kami disuruh maju.
“Nama ibu guru adalah Ibu Umi Sekarwati, tinggal di Desa Lebakgowah”, kata bu guru. Dengan sikap yang tegak seperti ingin menjadi bodigart presiden dan pura-pura tersenyum manis padahal senyumnya amat pahit menyapa kami seakan-akan gelar Putri Indonesia Diperolehnya. Mendengar perkataan dari Ibu Umi jantungkku langsung berlari-lari karena suaranya begitu tegas dank eras seperti komandan menyiapkan pasukannya, tetapi karena aku sedang gobrol dengan teman sebangkuku aku mendengar namanya ibu umi sekarang mati. What..? Apa..? Siapa yang mati, innalillahi wainnailahi rojiun. Tapi tiba-tiba teman sebangkuku menjitakku.
“Woi siapa yang mati, dasar kuping antor”, kata Priski teman sebangkuku.
“Tadi Ibu bilang ada yang mati tau?”, jawabku.
“Kamu tuli or bener-bener tuli, dia bilang Ibu Umi Sekarwati, bukan sekarang mati”, kata Priski.
“Oh, aku salach yach”, kataku.
“ya ialah masa ya iya dong”, kata Priski.
Tak lama kemudia, jam sudah menunjukan pukul 10.00. Kami para siswa bersiap-siap untuk segera pulang. Sebelum kami pulang kami berdoa terlebih dahulu ayitu membaca surat Al-Asr 1-3. Diantara kami masih banyak siswa yang belum hafal sehingga mulutnya berkomat-kamit entah mantra apa yang sedang mereka baca. Setelah itu, aku dan teman-temanku keluar kelas dengan ekspresi wajah yang beraneka ragam asin, asam dan manis. Ekspresi itupun tak membuat orang tua kami kecewa melainkan merasa bangga karena malaikat kecilnya sekarang sudah memasuki usia pendidikan.

Iklan

Read Full Post »

TIGA SEKOLAH

morning-at-vilage-road

Sang pagi datang menghapus tinta-tinta hitam dilembaran langit pelosok kabupaten tegal. Ayam saling bersahutan, berseru menggelegar seakan-akan mau bebas dari penjara kayu tempatnya menjalani hukuman karena berkali-kali memperkosa anak gadis tetangga sepermainannya. Hawa yang sejuk dan mentari yang bersinar terang mencuri perhatian burung untuk bermain dan menyanyikan lagu kebangsaannya. Bukan Indonesia raya melainkan burung-burung raya. Mereka terbang membuka lembaran baru seakan-akan dunia mau selamat dari ganasnya pengrusakan alam akibat perbuatan manusia yang tak bertanggung jawab. Dunia tetumbuhan pun tak mau kalah, mereka mengadakan berbagai aneka lomba. Lomba bangun pagi, lomba menghadap matahari, lomba mengambil air dari tanah sampai ke daun dan ibu-ibu tumbuhan pun ikut lomba masak-masakan dan yang paling penting tumbuhan berlomba mengeluarkan oksigen untuk memenuhi rukun wajib tumbuhan yaitu menjaga kelangsungan hidup para makhluk tuhan dibumi ini. Sungguh mulia tumbuhan itu.
Hari “>Hari “>Hari “>Hari Hari “>hari “>senin, ya pagi itu adalah hari senin. Hari pertama aku ingin disekolahkan. Perasaan senang, semangat dan gugup campur aduk, bahkan aku bangun tidur lebih awal dari biasanya mengalahkan ibuku yang setiap hari harus memasak dengan kayu bakar ala kadarnya. Kayu bakar dari sisa-sisa hasil pertanian di sawah. Sawah satu-satunya yang menjadi tumpuan hidup keluarga kami.
“Allahu akbar…allahu akbar!!!”
Adzan memanggilku. “Pak bapak “>bangun “>pak “>bangun “>pak “>bapak “>bangun pak? Sudah hamper komat nih? Ayo cepetan!”, kataku dengan suara lantang. “Iya bapak bangun nak”, kata bapak dengan suara malas. Masjid cukup dekat dengan rumahku, sebuah rumah peninggalan nenek karena habis terbakar waktu ibuku belum menikah.
Bapak Bukhori itulah nama ayahku. Temannya bapak muslim tetangga dekat rumahku. Mereka berdua bukan yang meriwayatkan hadits shoheh dan merekapun tak pernah melihat Rasullullah bersabda. Mereka Bapakku “>menghafal “>kental “>karena “>hanya “>bapakku “>hanya “>bapakku “>hanya orang adat “>jawa yang kental karena “>bapakku “>belum “>menikah “>banget “>belajar “>sholat “>kakekku “>sudah “>bisa “>menulis “>dengan budaya adatnya bahkan sebapakku “>belum menikah dengan ibuku, ibu saepuroh, bapakku belum menjalankan rukun isalam yang kedua. Bapakku hanya berjuang untuk hidup, untuk bisa mandiri menghafal “>karena jauh “>dari umur 7 tahun kakekku sudah meninggal dunia dan bapakku pergi dari rumah karena nenekku menikah lagi. Menonton wayang, campur sari, memberi sesajen sawah, membakar kemenyan dan memberi bunga 7 rupa di kolam ketika malam jum’at kliwon serta memberikan kerbau kalung ketika mau membajak sawah adalah segelintir aktivitasnya. Memang bapakku sangat menghormati nenek moyangnya. Bapakku kental banget dengan kebudayaan adatnya bahkan sampai sekarang dia masih menjaga keris pusaka peninggalan kakekku. Bapakku memang aktivitasnya jauh dari nilai-nilai islami, mungkin bukan hanya bapakku saja melainkan lingkungan desaku yang kental banget dengan budaya adat jawa. Setelah bapakku menikah, beliau mulai belajar sholat dengan cara menghafal karena bapakku buta huruf arab. Huruf yang tak mengerti baca dan artinya apa karena bapakku hanya bisa menulis dengan aksara jawa dan sedikit-sedikit bisa menulis ejaan bahasa Indonesia. Beliau belajar shalat hanya menghafal dan diajari sama ibuku tercinta. Alhamdulillah sampai sekarang bapakku sudah bisa salat, dzikir, puasa, zakat dan rutin menjadi muadzin ketika sholat shubuh. Sedikit-sedikit bapakku sudah meninggalkan kegiatan adat jawanya yang jauh dari nilai-nilai islami.
Jam 06.45, aku bersama ibu pergi ke sekolah dengan “>dengan “>dengan “>dengan dengan “>kendaraan nenek moyang kami, sepeda untuk “>cewe lama atau dikenal dengan sepeda “jengki “(Sepeda nabi untuk cewe). Ibu ingin mendaftarkanku untuk mengenyam pendidikan untuk pertama kalinya buatku. Tempat yang pertama kali ku tuju adalah SD favoritku, Sd N kambangan 01. SD yang pertama kali di bangun di desa kami. SD yang lokasinya cukup strategis, dekat dengan jalan raya, lumbung padi, bank dan sebuah pasar yang hanya ramai ketika mentari mengalahkan cahaya rembulan. Jam 07.15 kami sampai disekolah dan buru-buru masuk suatu ruang kelas. Kelas yang pintunya terpampang tulisan PENDAFTARAN SISWA BARU. Kelas yang lebih bagus dari rumahku. Bercat hijau, berlantai keramik dan beratapkan lonteng. Ketika masuk kelas pun terpampang senyum pak Soeharto menyambutku dan burung garuda yang membakar semangatku. Wau….! Ternyata yang daftar cukup banyak dan diantara mereka adalah teman sepermainanku. Jam 9, aku bersama calon siswa baru yang lain menjalani tes seleksi. Kami diwawancarai oleh seorang wartawan tanpa tanda jasa, bukan wartawan stasiun TV ataupun radio tapi wartawan sekolah yang akan mengajari kami ilmu sampai kelas 6 Sd nanti.
Ibu berkata, “Tief, gimana tesnya?”
“Bu, aku gugup dang a berani jawab”, jawabku.
“Ga bisa jawab? Ayo masuk kelas lagi”, jawab ibu.
Akupun masuk ruang “>kelas “>kelas “>kelas “>kelas kelas “>lagi karena aku keluar kelas minta perlindungan karena aku Aku “>ketakutan. Aku ketakutan ketika ditanya seorang guru. Guru yang berbadan besar, gemuk, berkumis dan berjenggot tebal, muka seram dan agak galak. Aku diruang kelas seperti di interogasi malaikat mungkar nakir. Pikirku ingin cepat keluar dari ruang kelas itu dan minum juice alpokat serta menonton TV.
“Haaah…selsesai juga!”, pikirku.
Aku langsung keluar kelas seakan-akan keluar dari runag pengadilan kasus pencurian ayam tetangga dan aku merengek-rengek ingin pulang, tp ibuku masih ingin mendaftarkanku ke sebuah SD dimana kakakku di sekolahkan yaitu SD N kambangan 03. SD yang cukup jauh dari rumahku kira-kira 1 km. Kami pergi dengan “Jengki” kami, “Jengki” yang setiap hari menemani ibu pergi ke sawah. Setelah memakan waktu setengah jam akhirnya aku dan ibuku sampai dihalaman sekolah yang luas dan ditumbuhi pohon beringin yang rindang. Kami langsung mencari tempat pendaftaran siswa bari disekolah itu. Aku menjalani tes lagi tapi gurunya tak segalak SD N kambangan 01. Hasilnya pun langsung diumumkan dan ternyata aku lolos dan berhak menjadi siswa baru di SD N kambangan 03. Ditengah-tengah kegembiraan aku, kakakku datang.
“Bu…,Latief udah daftar belum bu ke SD 3?” kata kakakku Risah.
“Udah..Nich Hasil pengumumannya!”, kata ibu.
Kak Risah pun langsung mengambil dari tangan ibuku dan membaca pelan-pelan.
“Saudara Moh.Abdul Latief diterima menjadi siswa baru di SD N kambangan 02”.
Kak Risah langsung kaget.
“ha…”
“Ibu, ibu salah daftar bu, ibu salah daftar!!”, kata kak Risah.
“Salah dimana bukannya dia lulus?”, jawab ibu.
“Ini bukan SD 3 bu melainkan SD 2?”, kata kak risah
Memang Sd 2 dan SD 3 berada dalam satu tempat. SD berdampingan sehingga membuat ibu kebingungan.
“Oh…terus gimana..?”, kata ibu.
Akhirnya ibuku, Siti Saepuroh kembali ke SD N Kambangan 2 dan menjelaskan sebenarnya serta meminta maaf. Maklumlah karena ibu tak sempat baca pengumuman itu dan ketika mendaftar langsung saja masuk karena terbur-buru.
Setelah itu, kami buru-buru ke SD N kambangan 03, mendaftar dan menjalani tes yang hampir sama dengan sekolah-sekolah yang lain dan menunggu pengumumannya besok pagi.
Keesokan harinya, kami pergi ke SD N kambangan 01 terlebih dahulu untuk melihat pengumuman penerimaan siswa baru tapi sayangnya nasib tak memihak padaku. Aku tidak diterima di SD impianku, Sd favoritku dan SD yang menjadi dambaanku. Aku agak menyesal gak keterima di SD itu. Kemudian, kami langsung buru-buru ke SD N kambangan 03.
Selasa, jam 11 pengumuman di temple di madding SD N kambangan 03. Kami di sekolah itu menunggu ½ jam. Suasananya yang semakin deg-degan dan membuat semakin penasaran.
Teng…teng…teng…!!!
Bel istirahat berbunyi. Pengumuman siswa siswa “>barupun di temple dan kami berdesak-desakkan melihat papan pengumuman itu. Terkadang kalo “>dilain “>sisi “>aku gak berani melihatnya karena kalo aku gak ketrima pasti malu banget pada ibuku dan kakakku Risah. Dengan mata terfokus pada daftar siswa baru, ibu telusuri dari atas ke bawah dan ternyata tercantuh namaku moh.abdul latief terpilih menjadi siswa baru SD N kambangan 03. Akupun senang banget. Dalam otakku berpikir “untung aku ga sekolah di SD N Kambangan 01 kalo iaya kiamat dach”. Aku bersyukur dilain sisi aku terlepas dari guru galak dan dilain sisi aku bisa numpang naik sepeda di sepeda kak risah dan bisa sekolah bareng sama kakak.
Setelah selesai, kami pulang dan memberikan kabar gembira pada bapak.
Dengan perasaan senang, aku berlari-lari memanggil bapak yang sedang nonton TV.
“Pak, aku ketrima pak!”, kataku dengan riang.
“Ya udah, belajar yang rajin yah supaya pintar!”, jawabnya dengan singkat.
Ya itulah karakter bapakku emang agak pendiam dan menjawab seperlunya saja. Setelah itu aku bermain ke halaman bersama-sama kawanku yang lain yang sedang bermain gundu.

Read Full Post »